Selasa, 06 April 2010

10 KRITERIA MENJADI GURU HEBAT SEPANJANG MASA

Beberapa waktu lalu saya pernah berselisih paham dengan salah seorang sahabat saya. Ia menanyakan strategi pembelajaran apa yang dianggap paling tepat untuk materi yang lebih mementingkan unsur berbicara. Ia sebenarnya tidak sepenuhnya bertanya, melainkan hanya sekadar memastikan sekaligus menguji kemapuan saya. Saya menjawab dengan pernyataan tertentu yang membuatya tidak sepaham. Tetapi bukan itu letak permasalahnnya. Tetapi adalah paradigma kami yang berbeda secara praktik mengenai guru yang benar.
Ia lebih mempertimbangkan mengenai kelegkapan perangkat mengajar. Itu sebabnya ia menyampaikan pernyataan bahwa ketika praktik mengajar sewaktu kuliah dan menjadi guru di sekolahnya, ia diajarkan untuk membuat perangkat pembelajaran yang lengkap. Mungkin saya salah paham sebab yang saya rasakan ada dampak tersinggung sebab ia menunjukkan bahwa ia mengajar di sekolah yang dianggap berada di urutan sekolah swasta terbaik. Saya juga ingat bahwa saya hanya mengajar di sekolah yang bahkan sebagian besar orang tidak mengatahui bahwa sekolah ini ada. Hal ini ia membuat dia mengingatkan bahwa di sekolahnya diajarkan untuk menjadi guru secara teoritis.
Maka kemudian, saya mendengar keluhan yang saya ketahui dari anak salah seorang guru, rekan kerja sahabat saya itu. Ia mengatakan kalau evaluasi sahabat saya terhyadap siswa-siswanya tidak valid. Sebab, nilai yang dilaporkan sebagian besar dengan nilai tinggi, sedangkan setelah dievaluasi ulang oleh guru lain, nilai tinggi tersebut dirasa tidak patut dberikan pada siswa yang bersangkutan. Saya juga pernah melihat contoh-contoh soal yang selalu ia berikan waktu mengevaluasi kemampuan siwa. Jelas secara praktik, ia tidak menerapkan perangkat mengajar dengan mengkombinasikan semua kriteria keterampilan berbahasa seperti yang ia katakan. Sistem yang ia buat masih sistem kurikulum lama yang tidak bisa dipakai sepenuhnya untuk pendidikan sekarang ini.
Hal ini membuat saya kemudian berpikir, apakah kelengkapan perangkat pembelajaran menjadi efektif bagi keberhasilan pengajaran?
Kasus lain terjadi pada seorang teman saya yang mendapatkan akreditasi A karena ia selalu menggunakan multimedia kepada siswa. Pengawas lantas memberikan nilai tertinggi dibandingkan guru-guru lainnya bahkan menyisihkan perhatian pada perangkat pembelajaran. Sebagian lagi mengatakan terang-terangan membuat perangkat pembelajaran seperti RPP, evaluasi penilaian, pengayaan, dan surat-menyurat lainnya hanya sebagai pelengkap agar mereka terbebas dari kritikan pengawas dinas pendidikian.
Tuntutan pemerintah yanga mewajibkan setiap guru membuat rancangan adalah langkah tepat sehingga guru memiliki rencana terarah dalam menyampaikan materi. Hanya saja, rencana ini terkadang tidak bisa direalisasikan dengan baik. Kadang tidak dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun, kadang sebagian dilakukan pengubahan strategi, bahkan tidak dipakai sama sekali.
Hal tersebut saya pikir tidak akan bermasalah selagi guru yang bersangkutan tidak mengabaikan respon yang didapat oleh siswa. Lengkap dan tepatnya perangkat mengajar tidak akan berhasil jika tidak diikuti dengan keterampilan mengelola kelas dan siswa; menguasai materi; dan mendidik atau memberi semangat.
Kemudian, banyak kawan-kawan saya ditugaskan sebagai pegawai pemerintah untuk mengajar di daerah pedalaman atau desa-desa terpencil. Mereka saya anggap sebagai guru yang handal (bagi guru yang menjalankannya dengan ikhlas dan senang), sebab tidak mudah menjalani kehidupan bertahun-tahun sambil mengajar siswa yang sulit menerima materi dengan muudah seperti rata-rata anak di daerah perkotaan. Tak sedikit kawan-kawan saya mengeuh proses pembelajaran tertahan, materi tidak selesai karena siswa tidak begitu mampu menyerap ilmu dengan cepat. Tambahan lagi, tidaak disertakan dengan fasilitas mengajar dan pribadi yang minim.
Meski nilai akhir siswa-siswa dari desa terpencil yang dianggap memiliki daya tangkap yang kurang, juga tidak menunjukkan hasil yang maksimal; guru-guru yang mengajar mereka tetap saya anggap sebagai guru teladan. Predikat itu tentu tidak bisa diberikan kepada semua guru begitu saja, sebab beberapa sekolah, banyak ditinggalkan gurunya sehingga ketika siswa masuk ke jenjang pendidikan selanjutnya, masih belum bisa membaca dan bberhitung dengan lancar.
Demikian pula dengan guru yang menurut saya mampu menyalurkan semangat besar bagi siswanya. Ia tidak menganggap dirinya paling tahu dari siswa-siswa. Ia juga dengan senang hati dan sekuat tenaga menyalurkan semangat juang bagi siswanya. Ia juga tanpa lelah berupaya untuk mengubah cara pandang siswa untuk menjadi lebih baik dan mendapatkan cita-cita dengan gigih. Bagi saya, guru tak hanya menyampaikan materi (mengajar), menjadi teladan (mendidik), tapi juga menyalurkan semangat.
Jadi, seharusnya kita tidak mengagap bahwa guru-guru yang mengajar di sekolah besar yang sudah mengajar anak-anak berbakat, dengan perangkat mengajar lengkap, dan fasilitas memadai adalah guru teladan. Tapi coba kita pertimbangkan bagi guru yang bertugas di tempat atau sekolah yang dikategorikan sebagai sekolah kurang “besar”, tapi mampu melakukan perubahan (meski kecil), mampu membuat kenangan besar bagi siswa, mampu menjadi tokoh idola, mampu membuat belajar menjadi lebih menyenangkan dari sebelumnya, dan mampu mengubah pola pikir keliru menjadi lebih baik.
Hal lain lagi yang sering saya jumpai adalah tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru kepada siswanya. Tak jarang guru bahkan kepala sekolah menggunakan kekerasan fisik dan mental terhadap siswa. Beberapa kali saya mencoba untuk bertanya sekaligus mengambil kesimpulan dari hasil obrolan dengan rekan-rekan guru. Mereka seolah-olah berkeyakinan bahwa guru yang hebat adalah guru yang galak. Mereka asosiasikan dengan memukul dan melemparkan kata-kata kasar atau jorok kepada siswa. Mungkin yang mereka maksudkan adalah ketegasan. Hanya saja banyak orang tidak paham makna tegas itu seperti apa. Tegas jauh dari kasar. Tegas tidak diwujudkan dengan memukul, membentak, menyindir, dan mengumpat. Tegas justru tindakan halus dan berwibawa.
Saya sering mendengar pernyataan rekan guru yang menyampaikan bahwa si anu atau si itu adalah guru galak dengan nada seperti memuji. Seolah-olah hanya guru galak lah yang mamppu mengatasi siswa. Mereka yang memang berupaya untuk sabar kemudian menyerah sehingga mengatakan pada kami bahwa, “Siswa-siswa ini tidak bisa pakai lembut lagi, musti dikeraskan.” Keras yang mereka maksudkan lebih menjurus ke aksi membentak bahkan bisa jadi memukul.
Bagi saya, sesulit apapun mengatasi siswa, hindari tindakan kekerasan fisik dan mental. Jika memang sudah tidak tahan dengan tingkah anak, lebih baik memilih untuk diam, keluar dari kelas, atau meminta waktu sejenak untuk beristirahat. Salah seorang rekan saya pernah menanggapi pendapat saya, “Sudah, banyak cara sudah kita lakukan agar mereka mau disiplin. Tapi ya itu...bandel... makin kita kasih hati, mereka minta jantung. Makin kita halus, mereka makin bertingkah.”
Maka jawabannya adalah, kita perlu mencari cara lain tanpa harus menggunakan kekerasan. Bukankah ada guru BK yang akan menangani hal tersebut jika kita memerlukan bantuan? Bukankah tugas sebagai guru memang mengajarkan kebaikan dan mendidik mereka untuk menjadi lebih baik? Jika kita mengajarkan dengan cara kasar, bukankah itu akan menimbulkan trauma bagi mereka? Jika dengan cara biasa tidak mampu mengatasi kenakalan siswa, carilah cara lain. Saya pernah mengalami kesulitan dalam menghadapi kenakalan siswa tingkat SLTA. Semua orang memang mengakui sekolah tersebut memiliki anak-anak yang suklit diatur. Jadi pikir saya, wajar kalau saya sulit mengatasi mereka apalagi jarak usia saya dengan mereka tidak berbeda jauh.
Tapi kemudian, ketika melewati kelas lain, saya mendapatkan kelas yang tenang. Semua siswa yang nakal itu memperhatikan penjelasan guru tanpa suara. Guru tersebut tidak pernah menggunakan kekerasan dalam mengajar. Ia betul-betul guru yang hebat. Memiliki cara untuk menunjukkan ketegasan terhadap siswa. Maka, saya ingin tahu apa yang sudah ia lakukan sehingga murid-murid di sekolah itu tunduk terhadapnya. Jadi, jika tak punya cara lagi untuk mengatasai siswa, dengarkan cara yang digunakan oleh orang lain.
Saya juga pernah mengajar di sekolah X. Sebagian besar siswa menentang tindakan kepala sekolah. Kepala sekolah melakukan kekerasan pada siswa sehingga memunculkan pemberontakan. Meski menurutnya cara itu lebih baik untuk mendisiplinkan siswa, tapi dampaknya adalah, ia menjadi umpatan oleh semua siswa dan guru lainnya. Bukankah ini tidak menjadi harapan kita sebagai pendidik? Tidak inginkah kita dikenang dengan semua kebaikan yang kita berikan oleh mereka? Tak inginkah kita dikenang seiring dengan kebaikan yang kita berikan? Tak inginkah kita diingat sebagai guru idola mereka? Meski kita juga memiliki kekurangan tertentu. Mungkin saja yang kita dapatkan dengan menerapkan kekerasan adalah rasa takut. Siswa akan menurut di depan, namun mengumpat dan membelok di belakang. Niat baik yang disampaikan dengan cara salah, tidak akan membawa dampak baik apa-apa.
Saya menulis hal ini merupakan keprihatinan saya mengenai sikap beberapa guru yang merasa bangga memukul siswa (bahkan saya mendengar beberapa guru berkoar-koar dengan bangga telah menampar banyak siswa). Guru seperti itu tentu guru yang kurang cerdik mencari cara, juga kurang cerdik mengatasi emosi. Maka sekali lagi, jika memang kita sudah tidak mampu. Mintalah waktu sejenak untuk menenangkan diri.
Tulisan ini bukan dibuat untuk mengumpat oknum guru yang dalam kaca mata saya, buruk. melainkan untuk berbagi pengalaman. Saya juga tidak mengatakan bahwa saya adalah guru teladan. Sebab saya pernah mendapatkan kritikan dari seorang siswa. Saya memiliki kebiasaan jika pindah dari sekolah tertentu (ketika masih sebagai tenaga honorer), saya selalu meminta kritik, saran, atau pesan dari siswa yang ditulis di selembar kertas. Tanpa harus mereka menulis nama, mereka akan menyampaikan dengan jujur. Di antara beberapa pesan yang isinya mengenai saran; ucapan selamat tinggal; ucapan terima kasih; dan pujian, satu pesan yang menurut saya sangat menarik adalah saya sering menjelaskan atau beberapa kali mendikte materi dengan cepat. Setelah mendapat kritikan itu, saya berusaha untuk berubah. Tapi tidak lama. Saya bahkan terkesan tidak mau menerima kritikan sebab saya menyadari masih terlalu cepat ketika menyampaikan materi, namun malas untuk berubah. Sebab memperlambat ucapan membuat saya kesulitan mengatur kata-kata. Itu sebabnya saya jarang menjelaskan untuk menutupi hal tersebut. Maka tak lama kemudian, di sekolah baru, saya kembali mendapatkan kritikan yang membuat saya kembali berpikir logis dan memaksa saya untuk harus berubah meski prosesnya sulit.
“Bu, kalau mendikte untuk tugas menulis sesuai EYD terlalu cepat. Sedangkan daya tangkap saya kurang. Jadi bagaimana saya bisa menulis dengan benar kalau saya banyak tertinggal?” Demikian kutipan yang saya ambil dari tulisan siswa.
Maka, nilai yang tepat bagi saya untuk menilai mana guru teladan dan mana yang tidak, adalah 80 % untuk strategi, penguasaan materi dan siswa, ketegasan, dan keakraban. 20 % baru untuk perangkat mengajar. Itu pun khusus bagi guru yang benar-benar menggunakan perangkat pembelajarannya secara praktik, tidak untuk menjadi bundel pameran untuk pengawas yang infeksi mendadak.
Maka, saya membuat kriteria guru hebat secara sistematis. Sekali lagi, hierarki ini dibuat berdasarkan pemikiran saya secara pribadi yang saya simpulkan dari pengalaman kecil dan pengamatan.
1. Ketulusan.
2. Kemampuan menguasai materi.
3. Kemampuan membuat siswa bersemangat belajar dan menjadi lebih baik beberapa tahun ke depan.
4. Kemampuan mengelola dan mengatasi siswa dengan cara cerdas dan jauh dari kekerasan fisik atau mental.
5. Kemampuan mengajarkan atau mengelola bakat siswa.
6. Kemampuan menerima kritik dan saran dari siswa.
7. Kemampuan menggunakan multimedia atau media pembelajaran.
8. Kemampuan dalam menyusun perangkat mengajar.
9. Kedisplinan dan penampilan.
10. Kemampuan bersosialisasi dengan siswa di dalam dan di luar sekolah.
Itulah sebabnya kita mempunyai guru-guru hebat sepanjang masa yang mampu mengajar di desa terpencil, meski dia sendiri hanya tamatan sekolah dasar, hanya berawal dari penjaga sekolah, dan tidak memiliki fasilitas lengkap. Karena mereka adalah guru-guru pemilik kemampuan no.1 yang sempurna. Tanpa perangkat, tanpa fasilitas, tanpa pengetahuan khusus, tanpa gelar, mereka kemudian menjalankan tugas teragung untuk mengantarkan anak-anak bangsa dari yang tak mampu menggunakan mata menjadi mampu melihat ujung dunia melalui pandangan cemerlang.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda