Senin, 05 April 2010

Alkisah Mata Bulan _Dian_ _Pecinta Wisnuagung_


Suatu malam di sebuah negeri

Bulannya lepas dari kendali

Hingga temaramnya tidak tepat jatuh di muka para penjejak

Maka bertanya pulalah kami

di hulu dan pangkal negeri

sambil memungut serpah-serpah cahaya bulan di semak

di sela pelepah nipah

Dahulu bulan masih bersama kami

Dahulu bulan masih cemerlang

di tengah-tengah bumi…

Konon bulan minta pada Tuhan

Mengapa aku cantik tapi tak diberikan pandang untukku

menyepak nuansa bumi dengan bias cahayaku

Lalu itu pulalah, muncul mata bulan

Ia saksikan hamparan dengan bayang biru pucatnya.

Jika awan disanding, maka bayangnya bertambah temaram suam.

Lalu terpandang pula derita di sudut mata dan di luas wajah sang pecinta di tengadah tengah malam

Ia penuh rindu …

Ia penuh ragu …

Ia penuh sendu …

Maka rindunya pun runtuh

Jadi itu terasa pula oleh bulan derita serupa

Matanya tak cuma memandang berkas cahaya cantiknya membias di permukaan bumi

Namun matanya juga menampak sakit tak berupa dari para pecinta dengan mukanya yang tengadah

Bulan minta dibutakan mata

Tapi Tuhan sedang marah

Karena bulan melepas anugerah.

Bulan berkata … jika aku salah meminta, jangan Kau beri setiap doa karena kami tak tahu doa yang dijabah itu nyatanya tak sejalur asa.

Jadi suatu malam di sebuah negeri

Bulannya lepas dari kendali

Hingga temaramnya tidak tepat jatuh di sangkar bumi.

Maka bertanya pulalah kami … di selasar malam yang diapit oleh bintang

Katanya bulan sedang lepas dari Tuhan

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda